Gentong Nyamperin Gayung, Mimpi Yang Menghampiri

Pagi ini aku sangat kaget melihat layar HP ku muncul pesan dari seseorang yang udah hampir 2 tahun ngga ketemu dan tiba-tiba nge whatsapp dan langsung to the point “Halo Mur, BTW gue lagi berencana bikin sekolah kesetaraan, paket A B C gitu, untuk anak-anak kurang mampu, gue mau minta bantuan lo nih buat join, mau ngga?”
Whatttt, baca beginian rasanya tuh syok happy banget, tanpa pikir lagi ngga ada sedetik langsung aku bales chat nya “Mau banget laahh Ris”
Namanya Faris anak Astra Isuzu, aku kenal dia sekitar 3 tahun lalu pada saat aku menjadi panitia AGI di lomba Cerdas Cermat Islam Astra (CCIA) dan dia menjadi MC nya. Setelahnya jarang ketemu apalagi chatingan, makanya cukup kaget pas tiba-tiba dia ngajakin buat join di project nya dia ini.
Melihat ajakan Faris ini, Aku jadi teringat sekitar 2 tahun lalu aku pernah mendatangi sebuah sekolah kesetaraan paket A, B, C di Jakarta Utara. Aku mengajukan diri untuk dapat mengajar disana, tentu saja hanya di week end karena senin-jumat tetap kerja. Aku sama sekali tidak meminta bayaran atas keinginanku mengajar ini. aku merasa bahwa mengajar anak-anak adalah panggilan jiwa yang mendatangkan kebahagiaan sekaligus energi tersendiri sebagai bekal untukku menjalani hari-hari . Namun apalah daya, ternyata untuk mengajar disini harus bergelar sarjana pendidikan, sementara aku management, jelas aku ditolak.
Kecintaanku pada pendidikan dan anak-anak membuat aku tidak patah semangat setelah ditolak mengajar di sekolah paket A, B, C Jakarta Utara itu. Tahun 2016 aku berhasil lolos seleksi Kelas Inspirasi di Brebes, menjadi relawan pengajar anak SD kelas 3, 5 dan 6. Tentu ini pencapaian yang membahagiakan sekaligus membuat ketagihan. Bertemu anak-anak yang semangat mengejar cita-citanya poll membuat aku merasa ketularan. Yah memang, atmosfir itu memang menular.
Itulah mengapa ajakan Faris ini terlalu sayang untuk ditolak, karena bagiku ini seperti peribahasa yang mengatakan bahwa “seperti gentong datengin gayung” ini seperti mimpi yang datang menghampiri, sangat excited.
Kamis, 8 Juni 2017 Pkl 17.00 kami bertemu untuk meeting perdana project Sekolah Kesetaraan Astra Paket A, B, C ini. ternyata tim kami ini berjumlah 7 orang, selain Faris ada 2 orang lagi yang ternyata aku sudah kenal dan salah satu nya bernama Uta, dia pun salah satu sosok yang aku kagumi, dia aktif menjadi kakak pembina di RBS yaitu Rumah Belajar Senen. Sudah 9 tahun sejak dia kelas 3 SMA membina anak-anak jalanan yang putus sekolah di daerah sekitar Senen agar mereka tidak putus asa mewujudkan cita-cita mereka dengan tetap bersekolah. Uta bercerita salah satu kebahagiannya adalah ketika beberapa anak sudah lulus dan bekerja mereka pun kemudian menjadi donatur untuk RBS ini, mereka ingin “adik-adik” nya dapat juga bisa seperti dia, lulus lalu bekerja dan mendapatkan kehidupan sosial yang lebih baik.
Faris sendiripun aktif mengajar di YPAB. Disela-sela kesibukannya sebagai Insan Astra, dia menyempatkan berbagi ilmu dan inspirasi untuk anak-anak kurang mampu di sekolah YPAB. Begitupun teman-teman lainnya ada Leli dari Isuzu, Rifky dari Asuransi Astra, Niki dari Isuzu dan Ashar dari Isuzu, merekapun aktif di kegiatan sosial seperti ini. intinya kami datang berkumpul disini dengan semangat dan kecintaan yang sama, ingin berkontribusi dan mengambil peran dalam masyarakat untuk membantu mereka-mereka yang putus sekolah karena kurang beruntung namun memiliki semangat ingin melanjutkan sekolah dan mengejar cita-cita dan kebahagiaan mereka.
Dalam meeting 2 jam ini, Faris berkali kali mengingatkan kita bahwa ini adalah kerja sosial, ngga ada gaji disini, jadi kerjakanlah dengan sukarela.
Kami yang berawal tidak saling kenal lalu sekarang menjadi saling support satu sama lain. Dalam project besar ini kami bagi-bagi tugas, Aku sendiri kebagian menyusun kurikulum untuk mata pelajaran IPS. Berat memang karena ini pengalaman baru buatku, tapi ini juga hal yang sangat menarik untuk dipelajari. Untung saja teman-teman jaman SMA banyak yang sekarang berprofesi sebagai guru, tentu saja aku bisa minta pendapat dari mereka yang sudah ahli. Nah, Inilah enaknya punya banyak teman, dimana-mana ada teman. Benar kalau ada pepatah bilang menjaga silaturahmi itu menambah rejeki, salah satunya seperti ini ketika kesulitan disatu hal cobalah tengok kanan dan kiri pasti ada teman yang jago dibidangnya hehe..
Sampai di titik ini saya semakin meyakini bahwa koneksi dan pergaulan yang luas itu penting. Menjaga ukhuwah dengan sebanyak-banyak nya teman. Tidak ada yang tahu rejeki datang dari mana, bisa saja dari teman lama atau teman yang tidak disangka-sangka. Seperti cerita ini, aku tidak menyangka kalau rejeki diajakin kerja sosial seperti ini datangnya akan dari Faris, teman yang kenalnya dari sebuah acara lomba, tepatnya lomba CCIA (Cerdas Cermat Islam Astra) AGI.
Rejeki tidak hanya berupa uang, tapi berada disekeliling orang-orang yang saling peduli satu sama lain adalah nikmat yang tak tergantikan dengan uang.

Nama Lengkap: 
Murni Anggraeni
Nama Kontingen Perusahaan: 
Astra International - Head Office
Alamat Perusahaan: 
Jl. Gaya Motor Raya No.8 Sunter 2 Jakarta Utara