Kami Menyebutnya “Pandawa Lima”

Bias senja menyengat ke dalam mobil secara perlahan, menembus jendela kaca yang sedikit terbuka. Sebagian sinarnya menelusuri tiap jengkal ari tubuhku. Mataku mengernyit seketika dibuatnya. Bunyi bel pulang terus menggema seantero kantorku. Ya, memonitoring unit repair di lapangan memang salah satu tugasku. Merebahkan badan kemudian menghela napas perlahan, alhamdulillah. Sekarang pandanganku menyapu seisi interior. Sebuah tuas kokoh dengan angka-angka berderet dibawahnya terlihat pada posisi netral. Di atasnya terpampang sebuah screen audio yang serba otomatis jika disentuh. Tak kalah canggih pada steering dipenuhi tombol fitur yang akan mengatur musik sesuka kita jika ditekan. Kemudian mataku tertuju pada sebuah tiket merah di antara laci glove box dan dashboard. Sebuah alat indikator untuk menginformasikan man power bahwa unit tersebut masih dalam proses perbaikan. “Miror center abnormal” begitu tulisnya.

Spontan pandanganku ke arah miror yang tak jauh beberapa centi dari kepalaku. Sekilas memang terlihat posisi kaca yang tidak pas pada bracketnya. Sesekali aku iseng memandangi wajahku, tapi sore ini sungguh lain. Wajah yang berhari-hari, bertahun-tahun selalu aku saksikan memalingkan wajah. Apa gerangan. Aku heran.

“Aku sudah muak melihatmu!” sindir wajahku di dalam miror.
“Kenapa? Ada yang salah denganku?”
“Banyak sekali. Mungkin karena kau lelaki pengecut sehingga selalu salah.” Alisku bergerak tak beraturan seirama dengan gerak bola mata yang seolah tak setuju mendengarnya, “Lantas apa?” pungkasku.
“Kenapa kau lari dari masalah ini?” tatapnya sinis.

Kali ini wajahku mulai tegang. Teringat sebuah kejadian yang membuat aku dan timku menjadi salah paham dengan masalah ini. Kejadian yang membuat Pandawa Lima, sebuah tim yang kami namai setengah tahun lalu menjadi canggung jika bertemu. Bukan hanya jumlah kita yang berlima pun kebetulan kita laki-laki semua. Toh Pandawa Lima menjadi ikon yang cukup heroik dalam cerita pewayangan, pikir kami. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bekerja dengan usia yang sepantaran cenderung ada potensi gesekan.

“Kalau memang menjadi beban, ngomoong!!” Ucapku dengan nada sedikit meninggi ketika memimpin breaving pagi kala itu. Salah satu tugasku memang harus memastikan ide perbaikan tim dikerjakan sesuai target yang ditentukan. “Ayo dong temen-temen, kita kan sudah sepakat tiap bulan mengumpulkan ide perbaikan satu, tapi sudah bulan ke dua belum ada yang ngumpulin?” imbuhku tanpa jeda. Tiba-tiba aku diam seketika, lidahku kelu. Astagfirullah terlalu kasarkah omonganku? Buru-buru aku pandangi satu persatu rekan tim yang dibentuk sejak awal tahun itu. Didapati muka penuh kekagetan pun beberapa terlihat memilih menekuk sedalam mungkin wajahnya. Aku bingung hingga aku memilih diam untuk sementara, bukan apa-apa aku hanya takut merusak mood mereka.

“Arrghh...kenapa bisa keceplosaaan!” teriaku tiba-tiba di dalam mobil. Meskipun mereka terlihat biasa namun aku merasa begitu bersalah. Aku menyadari tidak seharusnya aku berbicara sekasar itu. Cepat-cepat aku selesaikan tugas monitoringku. Mengisi checksheet dari beberapa kolom kemudian menandatanganinya. Sesekali bola mataku melirik ke miror berharap ia tidak kembali menatapku lebih dalam. Ku rogoh ponsel di saku kananku. ‘Brooo...sebelum balik, yuk kita ngobrol sebentar,’ ketikku pada grup whatsapp dengan nama sesuai timku.

Tanpa canggung aku langsung mengucapkan permintaan maafku ketika tim sudah berkumpul.
“Kita juga minta maaf ya sudah melewati batas pengumpulan,” ujar salah satu timku.
“Mungkin dari kejadian ini ada masukan atau keluhan?” ujarku mencoba mencairkan suasana.
“Sebenarnya kita ada kendala ketika mau bikin ide mas. Kita kan sudah kerja nih, dari pagi sampe jam delapan malam jadi waktu buat idenya ga kekejar. Belum lagi Sabtu-Minggu kita kadang ada produksi, Mas”. Ujar Singgih salah seorang MP yang lebih muda dariku.
“Betul tuh, gimana kalau tiap shift malam sebelum produksi kita luangin waktu satu jam-an kita buat ngumpul bahas ide, kita bisa ambil pas Juma’at sore mungkin.” Sambung Eka.
“Oke, saya setuju. Selain bahas ide kita juga bisa bahas problem internal pekerjaan kita ya atau mungkin sharing masalah kita. Toh sesama tim juga harus saling support dan terbuka kan, gimana?” usulku terus memompa semangat mereka.
“Setujuu!!!” jawab mereka kompak.

Alhamdulillah sejak kejadian itu, setiap Juma’at pas shift malam kita berkumpul untuk membahas ide atau problem issue apa yang terjadi di lapangan. Pukul 18.30 – 19.30 menjadi waktu kesepakatan kami. Lokasinya pun beragam kadang di ruang meeting kadang di luar kantor tempat biasa kami nongkrong. Agenda tersebut kami sebut BBQ atau Bincang-bincang Quality. Dengan harapan terus menambah kesolidan tim pun menyelesaikan problem yang ada secara bersama. Tak terasa kegiatan rutin ini terus memberikan impact yang luar biasa pada tim. Tidak hanya soal pekerjaan pun pengembangan karakter man power ke arah lebih baik naik begitu pesatnya.

Nama Lengkap: 
Soni Perdana Gunadis
Nama Kontingen Perusahaan: 
TOYOTA
Alamat Perusahaan: 
Jl Selayar Blok B No 9-10, Kawasan Industri MM2100 Cibitung