Matahari yang Dirindukan

Tepat di tahun ini genap 9 tahun aku tak bisa menikmati indahnya bunga di taman, indahnya warna warni bumi pertiwiku, indahnya cahaya matahari yang memberi ku terang dan yang lebih membuat ku terpukul tidak bisa melihat wajah belahan jiwaku.
Kulepas kepergian dia yang terkasih, dia yang tercinta dia pemimpin ku, ya..dialah suamiku tepat setahun setelah Allah mengambil penglihatanku, berat tapi ku coba untuk mengikhlaskan. Perjuangan ku belum usai, masih sangat panjang terlebih anak-anaku masih sangat membutuhkan ku terutama si bungsu yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Pintaku pada mu Ya..Rabb beri selalu hamba kesabaran, kekuatan dan kesehatan untuk bisa menghadapi kehidupan ini.
Aku adalah ibu dari empat orang anak, walau predikat ku seorang janda namun aku bukanlah seorang yang lemah aku yakin Allah maha adil dan bijaksana. Ku isi hari-hari ku dengan menyulam kain, menunggu telepon dari anak kedua dan ketiga ku yang pergi merantau untuk bekerja, mereka kini menjadi pahlawan ku, meraka menjadi orang yang paling ku tunggu ketika akhir bulan, kedatanganya sungguh sangat dapat menghapusakan pilu dan rasa resah di dalam hati ini.
8 tahun yang lalu sebelum putri ke tiga ku pergi merantau dia hampir saja menjadi seorang TKI di Taiwan, rasanya berat sekali untuk memberikan izin pada putri ku yang satu ini. Dia seorang anak yang rajin, ulet, selalu membantu segala kebutuhan kami di rumah dan dia sangat sayang pada keluarga. Dia rela menanggalkan cita-citanya yang sangat dia inginkan yaitu bisa duduk di bangku kuliah fakultas teknik kimia demi kami.
Putri ketiga ku dia adalah pahlawan dalam ekonomi keluarga kami, dia menjadi sosok yang teridola dalam hidupku. Dia mulai bekerja di perusahaan textile tepat setelah kami menyerah dan memutuskan supaya dia tidak melanjutkan sekolah, walau dia memiliki beasiswa dan lulus ujian masuk perguruan tinggi negri tapi kami lebih membutuhkan dia sebagai pekerja saat itu, posisi ku yang harus segera di oprasi karena tumor di kepala yang semakin membesar dan bantuan dari pemerintah tidak bisa mensupport sepenuhnya biaya rumah sakit. Dia menjadi orang yang paling kami harapkan saat itu, dia sangat bertanggung jawab dan perhatian terhadap keluarga. Suamiku saat itu masih ada dan masih sebagai seorang penjahit namun penghasilan dari hasil menjahit terkadang tidak bisa terlalu kami andalkan.
Suatu hari setelah aku pulang dari rumah sakit, MasyaAllah entah angin apa tiba – tiba adikku yang bungsu datang menjenguk, adik yang sempet ku berikan Asi ku, karena dia seusia dengan anak sulung ku. Setelah dia berumah tangga jarang sekali pulang. Namun tak pernah ku sangka kedatangan dia sangat memberikan arti untuk putriku yang hampir saja pergi menjadi TKI.
Silaturahmi ini adalah yang paling berkesan untuk ku, karena disini di mulai Allah memutarbalikan pikiran putriku, diskusi singkat tentang pengalaman kerja di textile dengan adik iparku membuat putriku bangkit dan bangun untuk mencoba hal baru, merantau ke ibu kota. Karena jarak yang tidak terlalu jauh dan adik nya suami adiku sudah lebih dulu bekerja disana, putriku mencoba mengikuti jejak kakaknya, mulai melamar dan mencari kerja di ibu kota. Optimis yang melekat di benaknya membuat dia yakin akan bisa merubah nasib nya dan keluarga menjadi lebih baik. Kesempatan memang selalu ada untuk mereka yang tulus berdoa, selalu berusaha dan mengabdikan diri nya untuk orangtua dan keluarga. Ya..Putriku di terima di salah satu perusahaan otomotif bukan di ibu kota tapi dekat dengan ibu kota tepatnya Bekasi. MasyaAllah hal yang tak pernah terpikirkan olehku, bahwa silaturahmi yang terjadi tempo hari membuat semuanya berubah, skenario Allah selalu lebih indah
Namun di balik kebahagian ini, masih tersimpan banyak kemelut yang terjadi. Rabb..tak ada yang abadi di dunia ini, saya tahu..namun rasanya sungguh luar biasa ketika saya mulai menjalani hari tanpa penglihatan, ketika putra dan putri ku sudah beraktifitas dengan tenang, Allah mengambil suami ku dengan begitu cepat. Mungkin suamiku terlalu memikirkan keadaan ku, mungkin juga suamiku stres karena bencana banjir yang menimpa daerah tempat kami tinggal saat itu dan cukup menyita banyak tenaga dan membuat dia tidak bisa menjahit kembali, sampai dia terkena penyakit yang cukup serius liver dan ginjal. Dia selalu bangga pada putra dan putrinya, dia selalu berdoa untuk kami, dia selalu ada untuk kami, namun Allah lebih sayang pada beliau sehingga di usia nya ke -52 Allah mengambilnya.
Rabb.. Puji syukur selalu ku panjatkan atas segala rahmat yang Kau curahkan, tak akan pernah hamba berhenti untuk mensyukuri semuanya. Namun di saat awan mulai gelap, di kala air mata sudah tidak bisa di bendung, di kala hati sudah tak bisa menahan rasa rindu pada dia yang tekasih tetap jiwa ini rapuh karena suamiku adalah matahari ku. Tanpa melihat aku bisa mengetahui dunia, aku bisa bersama membesarkan anak – anak ku itu dengan suami ku. Dia akan selalu menjadi matahari yang di rindukan,sampai kapanpun.

Nama Lengkap: 
NITA NURSITA
Nama Kontingen Perusahaan: 
Showa Indonesia Manufacturing
Alamat Perusahaan: 
Kawasan Industri Jababeka VI Kav. 28-36 Cikarang Bekasi 17530