Relawan Amatiran

“ Lindhuu,…lindhuuu……!!!”, Teriak mas Pitoyo sembari bangun dan lompat dari tempat tidur. Kami bertiga tertawa cekikikan melihat ekspresi ketakutan dari mas Pitoyo, salah satu anggota team YKIP (Yayasan Komatsu Indonesia Peduli) untuk aksi peduli Gempa Jogja pada tahun 2006 yang lalu.
Kami berangkat bersama ke Jogja, dari team YKIP sebanyak 9 orang, dan terbagi atas 2 group. Untuk group 1 meliputi wilayah kota Jogjakarta, Sleman dan Klaten, sementara group 2 untuk operasional wilayah Bantul dan Gunungkidul.
Saya tergabung dalam group 2, dengan wilayah operasional meliputi kabupaten Bantul yang merupakan daerah terparah baik kerusakan maupun jumlah korbannya, serta kabupaten Gunungkidul, yang merupakan daerah pegunungan kapur, dibagian tenggara propinsi DIY, yang kebetulan saya juga berasal dari daerah ini.
Ketika terjadi bencana Gempa Bumi di Jogja dan Jawa Tengah tahun 2006 tersebut, kami berangkat ke Jogja, dengan misi ber emphati serta peduli kepada keluarga karyawan atau orang tua teman-teman kerja kami, pada saat ditimpa kesusahan tersebut.
Melalui aksi ini, kami mencoba membantu memberikan sedikit bantuan, serta hiburan serta sebuah bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang tertimpa musibah, dan terutama para keluarga atau orang tua dari karyawan atu teman kami.
Jika kita sedang ditimpa musibah, maka kehadiran dari saudara, teman-teman, kerabat, atau siapapun apalagi kehadiran seorang pejabat, atau atasannya ditempat kerja, itu akan sangat membahagiakan, bahkan dapat menjadi obat, atau sesuatu yang nilainya tak terhingga.
Setelah kami seharian berkeliling menjangkau beberapa tempat diwilayah Bantul, kemudian malamnya kami menginap di sebuah Guest House di daerah Umbulharjo. Pada malam itu sebenarnya kami sedang berdiskusi untuk run down acara esok hari, serta mengevaluasi kegiatan pada hari ini.
Akibat kecapekan menyetir kendaraan seharian, akhirnya mas Pitoyo, salah satu dari anggota team kami ketiduran. Melihat begitu pulasnya dia tertidur, muncul salah satu dari anggota kami yang melakukan iseng, yaitu ranjang tempat tidur digoyang-goyang. Sontak mas Pitoyo kaget dan terbangun.
Keesokan harinya, pagi-pagi setelah selesai mandi, segera bersiap-siap berangkat dengan tujuan wilayah kabupaten Gunungkidul, arah tenggara Jogjakarta. Rencana kami akan mengunjungi 5 kecamatan, yaitu Gedangsari, Nglipar, Semin, Wonosari dan Playen.
“ Kita membeli nasi buat sarapan, nanti di sekitar Joinangun aja ya”, Usul mas Tito, sebagai ketua team kami.
“ Iya setuju, biar nggak kesiangan perjalanan kita”, Aku iku mendukung usul tersebut. Kemudian kami segera berangkat meninggalkan Guest house tempat kami menginap.
Setelah mampir membeli nasi untuk sarapan, kami melanjutkan perjalanan melintasi jalan Jogja – Wonosari.
Nampak disisi kanan kiri jalan sisa-sisa kerusakan akibat gempa yang sangat parah. Kerusakan yang paling parah, adalah dilokasi pasar Piyungan, sekitar lima ratus meter menjelang jalan menanjak, memasuki perbatasan kabupaten Bantul dan Gunungkidul.
Seluruh bangunan pasar rata dengan tanah, dimana pada saat terjadinya gempa, suasana pasar sedang ramai-ramainya pengunjung.
Innalillahi wainna ilaihi rooji’uun. Kami tidak bisa membayangkan, betapa histerisnya situasi pada saat itu. Semoga arwah para korban diampuni dosa-dosanya, dan diterima amal ibadahnya.
Setelah melakukan perjalanan sekitar satu setengah jam, sampailah kami pada rumah salah satu keluarga dari teman kerja kami.
Ketika kami sampaikan, bahwa kami adalah team relawan dari Komatsu Indonesia, perusahaan tempat bekerja dari putranya, dengan raut wajah yang berkaca-kaca, mereka menyampaikan rasa syukur, dan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya, terutama sangat berbahagia, karena bentuk kepedulian yang luar biasa, dari perusahaan, serta teman-teman kerja dari putranya.
Hal yang sama juga kami rasakan, dari setiap kunjungan team kerumah rumah orang tua atau keluarga karyawan, yang menjadi korban atau dampak kerusakan dari bencana ini. Tanpa kami sadari, kamipun mampu merasakan kesedihan sekaligus kebahagian ini. Sedih karena telah menjadi korban bencana, bahagia karena telah mampu memberikan sedikit kebahagiaan, atau membantu meringankan beban kesedihan ini.
Memberi perhatian atau sering kita maksudkan sebuah emphaty, ternyata akan sangat berarti, terutama disaat orang mengalami suatu musibah atau bencana.
Pengalaman ikut menjadi team relawan, pada sebuah misi kemanusiaan, memberikan pemahaman bagi kami, terutama diri saya, bahwa dengan meberikan rasa emphaty pada seseorang yang sedang tertimpa musibah, bias menjadi obat kesusahan yang sangat bermanfaat. Karena dalam jiwa dan semangat relawan, sudah tertanam slogan, You’ll never walk alone.

Nama Lengkap: 
Subiyanto
Nama Kontingen Perusahaan: 
Komatsu Indonesia
Alamat Perusahaan: 
Jl. Raya Cakung-Cilincing, KM 4, Sukapura, Jakarta Utara 14140