Rumah untuk Ibu

Suara bising terasa begitu memekakan telinga, mesin di line casting terlalu besar untuk dapat dijamah dan terlalu berbahaya jika mendekat sekalipun untuk sekedar melihat. Rania masih berdiri di ujung pagar pembatas antara mesin carousel dengan garis aman bagi operator yang sedang bekerja. Nampaknya kedua matanya masih menatap seseorang yang mengecek carousel dengan penuh fokus karena adanya perbaikan. Dengan HT di genggamannya Pak Arif tidak pernah luput jika sedang berkomunikasi dengan team kerjanya, dikarenakan mesin tersebut sangat besar dan berbetuk seolah seperti komedi putar yang memiliki setiap lengan untuk menggantikan tugas lengan manusia dalam bekerja.
“Pak Arriiiif.”Teriak Rania padanya ketika dia mulai berjalan ke arah Rania
“Ya Ran ada apa?”Tanya Pak Arif pada Rania
“Bapak masih sibuk? Saya ingin mendata beberapa masukan improvement yang dibuat oleh anak buah bapak.”
“Oh,Boleh nanti saya kasih datanya dan saya kenalkan dengan anak buah saya ya, kebetulan tadi saya lihat ada yang bagus.”Jawab Pak Arif sembari mengusap keringat di dahinya. Maklum saja dia begitu berkeringat, dibulan ramadhan ini tentunya semua karyawan muslim wajib berpuasa namun tidak mengurangi untuk tetap bekerja dengan maksimal.
Pak Arif kemudian mengajak Rania menemui salah satu anak buahnya, terlihat di kolom ID Card masih berlabelkan NPK sebagai anak kontrak. Beliau memperkenalkan anak buahnya kepada Rania, bernama Tangguh seorang anak kontrak yang masih terbilang cukup baru bekerja di area yang cukup panas ini. Sambil memperlihatkan mesin yang telah ia improve, Tangguh mencoba menjelaskan kepada Rania bahwa alatnya tinggal 10% lagi akan lebih maksimal.
“Bapak, yakin anak ini bisa mempresentasikan alatnya di depan manager kita nanti?”Tanya Rania pada Pak Arif.
“Yakinlah Ran, kapan sih saya tidak yakin kan selama ini kamu sudah tau bagaimana saya.”
Jawaban Pak Arif memang sedikit melegakan Rania, namun tidak seperti biasanya kali ini yang ia bimbing operator yang masih sangat baru bekerja, masih sekitar 7 bulan mungkin. Padahal selama ini yang biasa beliau ajukan selalu karyawan yang meskipun masih kontrak namun setidaknya masuk di kontrak tahap 2. Cara membimbingnya lah yang sangat disegani oleh anak buahnya yang lain. Sebagai atasan beliau selalu memberikan dukungan bagi bawahannya untuk tetap berimprovment dan tidak segan dalam membagi ilmu.
Langkah Rania sangat cepat ia bergegas naik ke atas menuju office, berlama-lama di tengah pabrik dengan suara bising mesin membuat puasanya makin lebih terasa. Berhenti di depan dinding kaca berukuran 3 x 1 meter tangannya menuliskan schedule presentasi untuk Tangguh 2 hari lagi. Tangguh berjanji akan menyempurnakan alatnya dalam waktu 1 hari.
Keesokan harinya Rania mencari Pak Arif di ruangan kecil paling sudut berdekatan dengan area casting. Namun Rania tidak melihat sedikitpun tanda-tanda keberadaan Pak Arif. Rania memutar balik tubuhnya mencoba mengamati area casting yang selama ini sebagai area kerjanya. Rania melihat Pak Arif mencoba menyelesaikan alat yang seharusnya di buat oleh Tangguh, meskipun tinggal 10% namun, tetap membuat Rania penasaran. Ia pun mulai mendekat perlahan dan sedikit mengeraskan suaranya yang tidak ingin kalah dengan suara bising di area casting.
“Pak, kok bukan Tangguh yang menyelesaikan?”
“Eh Ran, iya Tangguh saya minta untuk fokus di presentasi lagi pula ini tinggal finishing, apa yang sudah Tangguh lakukan untuk berusaha berimprovment itu cukup membuat saya bangga sebagai atasannya.”
“Jika boleh saya tanya pak, mengapa bapak justru memilih untuk membimbing Tangguh?dia kan masih sangat baru untuk berimprovment dengan projectnya.”
Kedua tangan Pak Arif mulai berhenti mengutak atik alat yang ada di depannya, kali ini pandangannya beralih di hadapan Rania yang sedang menunggu jawaban.
“Rania, sekitar 3 bulan lalu tidak sengaja saya bertemu Tangguh di mushola dekat rumah saya, seusai ba’da isya kami tidak hanya bertegur sapa melainkan mengobrol, saya menganggapnya seperti saudara sendiri. Dan dari situlah saya melihat dirinya sangat semangat dalam bekerja, tidak tanggung-tanggung bahkan dia memberanikan diri untuk membeli rumah di saat status bekerjanya yang masih kontrak. Ketika saya tanya apakah dia tidak takut tidak bisa menyicil nanti ketika ternyata putus kontrak, namun jawabannyalah yang membuat saya kagum. ‘Saya membeli rumah untuk ibu saya pak, jadi sekalipun saya tidak bekerja di perusahaan ini lagi saya masih dapat bekerja apapun dilur sana’. Dan dia tidak malu untuk meminta saya untuk dapat mengajar dan membimbingnya agar dapat berprestasi. Itulah yang membuat saya tidak ingin mematahkan semangatnya. Dan setelah beberapa bulan kami saling sharing saya telah menganggap Tangguh seperti saudara sendiri.”
Mendengar penjelasan dari Pak Arif, Rania makin mengerti begitu berharganya jika setiap orang memiliki sikap yang mau membantu dan menyemangati seperti Pak Arif dan memiliki sikap yang tangguh seperti namanya yaitu Tangguh

Nama Lengkap: 
PINKAN KURNIA
Nama Kontingen Perusahaan: 
Kayaba Indonesia
Alamat Perusahaan: 
Jl. Jawa Blok ii No. 4 Kawasan MM 2100