Sehalus Tutur Sekuat Pundakmu

Sungguh rindu ketika ku mengenang mu, sungguh indah ketika kau hadir dalam hidup ku, sungguh halus tutur katamu, sunggu kuat pundak mu menopang semua beban hidup ini. Banyak hal yang tak akan pernah terlupakan, aku adalah putri mu yang selalu mengingatmu dan akan selalu ku hatur kan Al-Fatihah di setiap sholat ku.
Masih teringat di diri ini kata terakhir mu untuk ku, bahwa hidup tidak boleh menyerah, jangan tinggalkan 5 waktu, selalu berbuat baik pada siapa pun dan jangan lupa silaturahmi. Ya..silaturahmi adalah yang selalu di lakukan oleh ayahku setiap dia ada waktu senggang kepada siapa saja, kapan pun dia akan menyempatkan hal itu.
Kami bukan dari kalangan menengah apalagi menengah ke atas, masa kecil ku sangat sederhana bahkan jika syukur ini kurang mungkin kami sangat kekurangan. Namun ayah selalu mengajarkan kepada kami arti syukur dan ikhlas dalam menjalani kehidupan.
Sepeda yang selalu dia kayuh untuk mendatangi setiap sanak saudara yang dia kenal adalah saksi bisu sampai saat ini. Jauh atau dekat, kaya atau miskin tetap akan dapat kunjungan dari ayah ku. Niat silaturahmi sambil mencari pekerjaan yang bisa dia kerjakan walau sekedar membetulkan setrika, jam tangan, dinamo mesin, atau instalasi listrik atau juga panggilan pengajian dari kerabat dekat itu lah aktifitas yang dia lakukan.
Silaturahmi yang di lakukan ayah ku adalah suatu hal yang teramat sangat bermanfaat bagi kami yang di rumah menanti nya, karena ada hal penting yang kami nanti beliau pasti akan membawa pangan atau minimal beras untuk makan esok hari. Ketika ada sebagian orang menyimpan makanan untuk satu bulan kedepan, kami masih berusaha untuk mendapatkan makanan untuk hari ini. Begitulah masa kecil ku, makan berlauk kan garam atau kerupuk atau terasi sudah biasa. Namun proses untuk bisa makan, proses untuk mendapatkan makanan itu yang sangat melekat sampai hari ini.
Pagi, siang,malam bukan lah suatu patokan untuk ayah ku berkeliling, kapan pun ketika kesempatan itu datang maka dia akan pergi. Masih terbayang di ingatanku dia selalu membawa tas usang berisikan peci yang sudah kusam dan sarung untuk sholat. MasyaAllah ayahku adalah orang yang tak pernah sekalipun lalai dalam sholat, dan tiada hari terlewatkan tanpa mengaji. Dia adalah sosok yang sangat teridola, inspirasi ku dalam berkarya di sekolah. Roda kehidupan selalu berputar, namun yang terasa saat masa kecil ku seolah roda kehidupan itu berputar sangat lambat. Padahal ketika ku ambil hikmah dari perjalanan 27 tahun aku berada di bumi ini, saat roda sulit berputar adalah masa dimana Allah sedang membuatku kuat, sedang membuat pondasi dalam diri ini untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Rabb..20 tahun rasanya sangat singkat untuk kebersamaan kami dengan ayah, engkau maha mengetahui atas apa yang engkau rencanakan. Melihat dia yang teridola terbujur kaku dan tak bernyawa rasanya luluh jiwa dan raga ini. Beban yang dahulu dia pikul kini beralih padaku, ku terima semua ini karena dia selalu memberikan pelajaran berharga untuk ku ikhlas dan tawakal. Dia bukan orang berlebih namun dia selalu ingin berbagi dengan siapapun, sesulit apapun kami dia tetap bertanggung jawab terhadap adik-adiknya, dan itu akan menjadi hal yang sangat luar biasa ketika saya ditinggal oleh seorang ayah seperti beliau. Saya harus belajar dari beliau tentang kehidupan, tentang bertutur, tentang tanggung jawab dan tentang silaturahmi yang tak pernah dia tinggalkan.
Ukhuwah yang beliau jaga adalah warisan untuk kami yang masih hidup, selalu menjadikan diri bermanfaat untuk siapapun. Ayah aku akan berusaha menjadi seorang yang berguna, sehalus tutur mu pada kami dan sekuat pundakmu menerima beban hidup yang luar biasa, kaut tetap bersabar. Ayah ku kirimi selalu Al-Fatihah untuk mu di setiap sholatku.

Nama Lengkap: 
Nita Nursita
Nama Kontingen Perusahaan: 
Showa Indonesia Manufacturing
Alamat Perusahaan: 
Kawasan Industri Jababeka VI Kav. 28-36 Cikarang Bekasi 17530