Temanku

Sebenarnya sudah lama aku mengenalnya, tepatnya sejak 2 tahun yang lalu. Sudah lama aku tahu siapa dia. Tapi aku tidak begitu memahaminya. Karena takdirNya lah aku berada disini, di project yang sama dengan dia. Sekarang aku memahaminya. Aku memahaminya seperti apa dia, seperti raga yang sedang kehilangan arah. Raga yang tak tahu siapa dan harus bagaimana mengenalnya. Sebagai makhluk sosial, dia sangat baik. Teman yang senang sekali membantu, untuk ratusan kali kesusahanku dengan senang hati dia tersenyum dan berujar “gue harus gimana biar buat lo kuat”. Bahkan, disaat lingkungan membuatku tidak nyaman dan disatu titik ingin sekali aku pergi dari tempat ini, dia pun teman yang pertama berkata “ c’mon Lusthy, dimana lo? Lo yang selalu kuat dan gak gampang nyerah kayak gini”. Tapi tidak untuk yang belum mengenalnya. Dia adalah teman perempuan di kantor aku yang senang sekali memakai baju seksi. Pakaian yang sejatinya kurang pantas dipakai, apalagi diaa dalah seorang perempuan muslim. Setiap hari bahkan setiap menitnya dia selalu dinasehati oleh teman – teman aku, atasan aku, bahkan hampir semua yang bekerja sama dengan Divisi kami selalu tak henti menasehati dia. Tidak hanya cara berpakaian, tapi juga mengingatkan dia untuk sholat 5 waktu dan membaca Al –qur’an. Tahukah kalian apa yang terjadi?
Dia semakin berontak. Semakin menganggap semua orang yang menasehatinya adalah angin lalu yang tak pernah mampu untuk memahaminya. Bahkan sesekali dia bercerita jika dia kesal dengan semua nasehat berulang, nasehat lama yang harus didengarnya setiap hari Senin – Jum’at. “ kadang gue muak sama semuanya, gue kesel kalo digituin. Gue kayak gini emang ngerugiin mereka? Enggak kan? Gue nakal juga buat diri gue sendiri kok, gak pernah gue ngajak – ngajak orang lain”, ujarnya sembari ketak – ketik laptop. Akupun hanya mampu mendengar dan sesekali tersenyum saat mendengar semua keluh kesah dia. Memang benar, selama ini aku tidak pernah memintanya untuk memakai pakaian lebih sopan, memintanya berjilbab, memintanya untuk sholat, ataupun bertaubat. Karena apa? Karena saat berhadapan dengan seseorang seperti dia, menurutku tak akan memberikan efek apapun untuk dia. Tapi jangan salah, aku punya cara tersendiri yang diam – diam selama ini aku lakukan. Ini adalah ajaran yang selama ini aku dapati di rumah. Aku dapati dari seseorang yang selama ini aku panggil dengan nama Ibu. Ibu tidak pernah membentak, berteriak dan marah saat menyuruhku untuk sholat dan ngaji. Beliau hanya memberiku contoh. Saat subuh misalnya, belia hanya membuat ramai kamar aku dengan suaranya saat berwudhu, sholat, dan ngaji. Disaat itulah seperti ada rasa tidak enak, ibu saja bisa bangun pagi kenapa aku tidak?
Begitu pula dengan situasiku sekarang. Saat memahami dia seperti apa, aku sering sholat maghrib di ruang kerjaku. Ya, karena kami sering sekali pulang malam jadi ada begitu banyak waktuku untuk saling bertukar pikiran. Selesai shalat Zuhur pun tidak lupa aku menyempatkan diri untuk membaca Al-qur’an dua sampai tiga ‘ain disebelahnya. Karena kebetulan jarak tempat duduk kita tidak begitu jauh. Tidak hanya sekali, dua kali aku lakukannya. Aku hanya berharap suatu hari ada keajaiban yang datang dari DIA untuk dia, temanku. Bulan pun berganti dan entah aku lupa tepatnya di bulan ke berapa saat hal ini terjadi. Dia pun memamerkan sesuatu kepadaku. Akupun sangat kaget dibuatnya. Dia memamerkan sebuah Al – qur’an cantik ukuran sedang. Katanya, tiba – tiba dia ingin membawanya ke kantor. Tidak hanya itu saja, dia juga membawa mukena yang warnanya sepadan dengan Al – qur’an cantik itu.
“Subhannallah” kataku tiba – tiba.
“Tumben”, lanjutku.
Dengan gaya khas nya pun dia bercerita jika terinspirasi dari aku. Katanya. Dia senang saat aku sholat disebelahnya. Dia senang saat aku membaca Al – qur’an. Dia senang karena aku tak pernah berujar tentang apapun yang membuatnya sedih dan sakit hati. Di hari itu juga, dia sholat Maghrib. Ya, walaupun belum 5 waktu tapi aku senang sekali melihatnya. Dua hari kemudian, dia mulai mengikuti aku untuk membaca Al – qur’an. Dia baca ayat demi ayatnya. Ya, walaupun saat membacanya masih belum mengenakan pakaian muslimah dan tidak berwudhu terlebih dahulu. Sambil tersenyum aku hanya mengatakan alangkah indahnya jika baca sambil memakai kerudung dan akan menjadi lebih berlipat pahalanya jika sebelum membaca Al-qur’an diawali dengan berwudhu terlebih dahulu. Tapi setidaknya aku kembali dikejutkan olehnya. Bahkan sesekali kami pernah sholat Maghrib berjamaah. Ya Allah, aku tahu tidak mudah untuk menjadikan semuanya yang telah terbiasa menjadi tidak biasa. Akan tetapi, aku yakin akan satu hal. Jika Engkau sudah mengatakan “kun fayakun”, maka tdiak ada hal yang tak mungkin bagi Mu.
Aku juga mengatakan padanya jika memang Allah memberikan hadiah berupa Hidayah untuk para umat pilihanNYA. akan tetapi tidak menutup kemungkinan kita bisa mendapatkan hal itu. Dengan cara apa? Dengan cara mencari perhatian kepadaNYA. -lusthychan-

Nama Lengkap: 
DIAN DINI TULUSTI
Nama Kontingen Perusahaan: 
Astraworld
Alamat Perusahaan: 
jl. Gaya motor 1 no 10 sunter Jakarta Utara