Toleransi

Juni 2014. Kantor memberiku tugas untuk mengikuti training di Sydney Australia, sebulan penuh. Bukan yang pertama bagiku, tapi biasanya tak selama itu.
Pukul 24:00 WIB pesawat take off untuk terbang selama 7 jam. Diperkirakan akan sampai pukul 10:00 pagi. Penerbangan nyaman membuat tidur nyenyak. Cuma crew cabin beberapa kali mengganggu dengan menawarkan makanan dan minuman. Gangguan yang menyenangkan.
Menjelang landing pramugari membagikan arrival card untuk diisi penumpang. Pesawat sedang meluncur halus tanpa goncangan. Kesempatan baik pikirku dan secepat kilat kuisi form itu. Aku telah belajar dari pengalaman.
8 tahun sebelumnya saat training ke Tokyo, crew cabin membagikan form serupa. Pesawat sedang terguncang-guncang karena cuaca buruk. Tapi aku memaksakan diri menulis walau agak kuatir. Dan apa yang aku kuatirkan terjadi. Aku mual mau muntah tapi kutahan sebisanya. Saat turun kucari toilet dan kukeluarkan semua yang mendesak minta bebas.
Ya, itulah penyakitku. Tak bisa membaca dalam kendaraan yang bergerak terguncang. Bila dipaksakan maka dalam beberapa detik pasti merasa mual.
Saat tiba cuaca Sydney cerah. Masih banyak waktu tersisa untuk keliling mengenal kota karena training baru dimulai esok pagi.
Lokasi training agak jauh dari hotelku yang berada Haymarket. Aku harus naik kereta disambung jalan kaki untuk mencapainya. Memang tak melelahkan berjalan kaki sejauh itu dalam suhu udara 18 derajat celcius. Cuma badan menggigil kedinginan walaupun sudah kukenakan pakaian berlapis termasuk syal dan kumpluk. Maklum manusia tropis.
Peserta training hanya 3 orang: aku, temanku dan seorang bule lokal. Maurice yang juga seorang trainer ikut bergabung jadi peserta. Orang ramah yang umurnya lebih tua dariku. Training adalah belajar agar menguasai produk dan pulang dengan cukup ilmu. Biaya besar yang dikeluarkan perusahaan tak boleh di sia-siakan.
Mengetahui aku seorang muslim, Maurice banyak membantu. Diberinya aku salinan menu kantin. Tujuannya agar aku bisa tahu makanan yang halal dan yang tidak. Mencegah salah pilih saat makan siang. Dia juga memperkenalkan aku dengan beberapa pegawai muslim.
Tak ada ruangan khusus untuk sholat seperti halnya kantor di Indonesia. Dengan sajadah sendiri aku sholat dibelakang mesin setinggi hampir 2 meter dan lebar 5 meter. Mesin yang sedang aku pelajari.
Sabtu dan Minggu adalah hari libur dan kuisi dengan jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat wisata. Tapi rupanya ada satu kekhilafan dalam hal tamasya ini. Pada Sabtu ketiga aku berencana pergi ke Bondi beach. Ingin melihat pantai yang terkenal dengan para lifeguard-nya itu. Apakah saat beraksi seperti yang terlihat di reality show TV.
Ternyata Sabtu itu adalah hari pertama Ramadhan di Sydney. Pergi ke pantai sudah barang tentu bukan pilihan bijak. Puasa dan pemandangan orang berjemur menghampar di atas pasir sepertinya bukan kombinasi yang tepat. Penuh ranjau yang bisa mengganggu kekhusyukan puasa. Maka gunung jadi pengganti dan dengan 2 jam perjalanan kereta ia kudatangi.
Temanku tidak berpuasa. Jadi seperti biasa setiap pagi ia sarapan di restoran hotel. Dan aku ikut serta. Tapi aku tidak sarapan melainkan hanya mengambil beberapa makanan buat berbuka puasa. Lumayan bisa menghemat uang aku. Sayang kalau hak yang sudah dibayar mahal tidak dipergunakan semestinya.
Tapi hanya berlangsung sebentar. Hari ketiga seorang pelayan bertanya heran mengapa hal itu aku lakukan. Kujelaskan alasanku yang sedang berpuasa. “No”, katanya. Ia menerangkan bahwa hal itu tak boleh dilakukan. Makanan yang kuambil dan dimakan nanti sore ia kuatirkan basi dan tak baik dikonsumsi. Tapi aku tak yakin dengan alasannya. Sepertinya ia tak sampai hati untuk menerangkan bahwa aku hanya boleh makan ditempat dan tidak boleh minta dibungkus seperti di warteg.
Aku minta solusi dan manager restoran datang menemui. Kembali aku bercerita. Ia minta waktu sebentar untuk membicarakannya entah dengan siapa dan tak lama kemudian kembali dengan tersenyum dan sebuah kabar gembira.
Ia memberiku 4 jenis menu yang bisa dipilih dan nanti menjelang sahur menu pilihanku akan diantar ke kamar. Maka sejak hari itu setiap pagi aku memberitahukan menu sahur pada resepsionis. Dan menjelang subuh seorang bule mengetuk pintu kamar untuk mengantarkan makanan. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan.
Toleransi dan fleksibelitas bukan sesuatu yang berat bila ada keinginan untuk melakukannya. Hotel itu membuktikannya walaupun mungkin juga karena pertimbangan bisnis. Tapi aku tak berhak berburuk sangka. Juga Maurice teman baruku itu. Membantu dengan senang hati serta melongo-longo saat mendengar ceritaku tentang bangsa Indonesia yang memiliki ribuan pulau, puluhan suku dan bahasa. Kagum bahwa suku dan agama yang beraneka ragam seperti itu bisa hidup rukun.
Semoga tetap seperti itu negeriku walaupun akhir-akhir ini mulai timbul ujian-ujian.
“Ya Allah luluskan bangsa kami”. Sebab ujian biasanya syarat untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi, lebih mulia.

Nama Lengkap: 
Usep Winaya
Nama Kontingen Perusahaan: 
Astra Graphia
Alamat Perusahaan: 
Jl. Kramat Raya No.43 Jakarta Pusat